“AMIR HUSEIN
ALMUJAHID (1900-1982 M)”
KHARISMA SEBAGAI ULAMA
MUJTAHID DAN MUJAHID
v Silsilah singkat Amir Husein Almujahid
Di
awal tahun 1311 H bulan Muharram/1900 M di desa Blang Siguci Idi Rayeuk Aceh
Timur, lahir seorang putra dari pasangan suami istri yaitu Amir Suleiman dan
Cut Manyak binti Muhammad Yusuf bin Syech Yakub bin Syeckh Abdussalam. Anak
yang diberi nama Amir Husein (kemudian mashur dengan Tgk. Amir Husein Almujahid/ayah
Mujahid) oleh kedua orang tuanya mengalir perpaduan darah timur tengah murni,
bangsawan dan pahlawan Aceh. Ayahnya berasal dari negeri para “Mullah” (Persia
sekarang Iran) sedangkan ibunya berasal dari negeri Yaman.
Ibarat
pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” seolah mengilustrasikan
kepribadian Amir Husein yang terlahir dari aliran nadi bangsa dengan tingkat fanatisme
Islamnya yang kental dan kerap bergolak, mengkristal pada sosoknya yang kemudian
hari tumbuh menjadi seorang anak dengan rasa sosial yang tinggi, mencintai
agama, bermental ksatria dan terkenal berani.
Adapun
pemberian nama Amir diambil dari garis keturunannya yang berasal dari pihak
ayah; Persia dan Husein merujuk pada kebiasaan bangsa Persia dalam pemberiaan
nama putra mereka sama dengan nama cucunda nabi Muhammad SAW.
v Masa kanak-kanak dan latar belakang pendidikan
Dua
tahun berselang, ayahandanya (Amir Sulaiman) meninggal dunia. Amir Sulaiman yang
selama ini menjadi tumpuan asa dan curahan tempat berkeluh kesah keluarga meninggalkan
seorang istri bersama dua putra dan putri yaitu Cut Fatimah dan Amir Husein.
Di
tengah kesendiriannya, Cut Manyak tetap tegar dan berusaha keras menapaki hidup
membesarkan Amir Husein dan Cut Fatimah seorang diri. Ikhlas melakoni tanggung
jawab sebagai “ayah ngen mak” sekaligus, Cut Manyak berhasil melewati masa
sulit hingga Amir Husein pun memasuki masa kanak-kanaknya. Keseharian Amir
Husein diisi dengan bermain dan mengaji di malam hari. Satu hal yang menarik,
dikalangan sahabatnya Amir Husein dikenal memiliki rasa kesetiaan dan simpati
yang berlebih terhadap semua orang sehingga ia begitu dicintai oleh
teman-temannya. Kendati demikian waktu luangnya lebih banyak dimanfaatkan untuk
membantu ibunya di rumah.
Oleh
ibunya Amir Husein mulai diperkenalkan Al- Qur’an dan dasar-dasar Islam. Saban
hari, ibunya senantiasa mengajarkan Juz Amma dan tertib pelaksanaan shalat pada
Amir Husein. Selanjutnya di usia 7 tahun ia mulai mengeyam pendidikan dasar
pada Volkschool Blang Guci dan Dayah Pulo Blang Idi yang didirikan oleh Teungku
Chik Muhammad Idris Ahmad Tanjongan Al-Rumi. (Fauzi, 2016:09).
Dari
catatan sejarah, Amir Husein kerap berpindah tempat dalam menuntut ilmu, ini
dikarenakan sifat Amir Husein yang tidak betah diam pada satu tempat saja
(Hasjmy, 1997:135). Sumber lain menyebutkan (wawancara dengan anak laki-laki
tertua Amir Husein tanggal 21 Desember 2017) sikap tersebut disebabkan karena
perbedaan pemikiran/pendirian Amir Husein terhadap lembaga pendidikan tersebut.
Selain itu Amir Husein juga pernah menimba ilmu pada Dayah Cot Meurak Bireun, Dayah
Blang Kabo, Geudong, Dayah Blang Jruen, Dayah Hasbiyah Indrapuri Aceh Besar
hingga berguru selama 20 tahun pada seorang ulama besar nan kharismatik
pimpinan Dayah Kruengkale yaitu Teungku Haji Muhammad Hasan Kruengkale.
Sepintas
penulis sajikan pengalaman unik nan jenaka dari Amir Husein selama menimba ilmu
yang diceritakan langsung pada anaknya. H. T. Zubair Almujahid, mengisahkannya demikian:
“Disaat abah sedang belajar di dayah Hasbiyah Indrapuri, terlintas keinginan abah
untuk pulang kampung di Idi Rayeuk Aceh Timur. Keterbatasan biaya tidak
menyurutkan niat abah untuk pulang.” Amir Husein dengan nalurinya cerdik
menganjurkan sahabatnya Usman Bakar Perlak untuk mengikuti ajakannya tidur
terlentang di ruas jalan. Tanpa menunggu waktu lama sebuah kendaraan mewah
milik Residen Belanda mampir dan memberikan tumpangan pada kedua santri
tersebut. Sepanjang perjalanan seisi mobil Residen Belanda riuh terbahak
mendengar kisah Amir Husein. Singkatnya, sesampainya di idi, Amir Husein dan Usman
Bakar diberikan hadiah ƒ1000 (Gulden Belanda) dengan pesan; “Pergunakanlah
uang itu untuk belajar dan sebagian berikan untuk ibu”.
Tak
hanya itu, Amir Husein selama belajar di dayah Hasbiyah Indrapuri diberikan “mandat”
oleh panitia lembaga dayah sebagai santri yang bertugas mencari bantuan dana untuk
pembangunan dayah yang mana hal tersebut mengantarkan Amir Husein, sahabatnya
Usman Bakar dan Abubakar Aceh ke berbagai daerah di luar pulau Sumatra sampai
Singapura dan sempat memperoleh wejangan dari Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah
(dalam Hasjmy, 1997:136). Yang pada akhirnya, pertemuan tersebut menginspirasi Amir
Husein dan kawan-kawan untuk melakukan gerakan perlawanan menentang pendudukan
bangsa penjajah Belanda di bumi para aulia.
Sekembali
dari perantauan, Amir Husein yang selalu merasa kehausan akan ilmu Agama Islam
kembali meneguk ilmu di Madrasah Maslurah Tanjung Pura, Langkat.
v Usaha Memajukan Pendidikan
Tampaknya sisi jiwa pembaharunya mulai terlihat
tatkala Amir Husein selesai menimba ilmu agama Islam di berbagai tempat. Di fase
awal, perubahan yang mendasari langkah Amir Husein adalah motivasinya untuk
mengembangkan dunia pendidikan dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan
Madrasah Nadhatul Islam dan sekaligus menjadi tenaga pengajar selama satu tahun
di kampungnya Blang Siguci Idi (1932) dengan tujuan agar putra-putri daerah
bisa mendapatkan pendidikan Islam sebagai modal pembentukan karakter.
Kebiasannya yang mobiler serta kecintaannya yang
mendalam pada dunia pendidikan menggiring tekadnya ke berbagai daerah untuk mendirikan
serta mengajar ilmu Agama Islam. Mengenai hal ini, Ali Hasjmy ( dalam Hasjmy,
1997: 135) mencatatnya sebagai berikut:
1.
1932 : Mengajar
di Madrasah Diniyah Kelapa Satu, Sigli,
2.
1933 : Mengajar
pada Madrasah Diniyah Meulaboh,
3.
1935 : Mengajar
pada Madrasah Islam Langsa dan Tualang Cut,
4.
1936: Mendirikan
dan Mengajar pada Madrasah MADANI
Kampung Aceh, Idi,
5.
1937: Mendirikan
dan Mengajar pada Madrasah mujahidin Blang
Rambong Keude Geurobak, Idi Rayeuk.
Dan Seiring
waktu, di tahun 1963, Amir Husein yang begitu bercita-cita memajukan dan
mengembangkan dunia pendidikan di Aceh kembali dituangkannya pada pembangunan
sebuah Lembaga Perguruan Tinggi Islam Darussunannah hingga pada akhir hayatnya lintas
asa tersebut pun diaktualisasikan pada penghibahan/wakaf tanah seluas 6 (empat)
hektar milik pribadinya sebagai lokasi pembangunan Lembaga Pendidikan Tinggi
Islam Darussunnah yang terletak di desa Kampung Dalam Kecamatan Karang Baru,
Aceh Tamiang.
v
Gerakan
Perlawanan
Sepuucuk urat kiriman Amir Husein,
diterima oleh Ali Hasjmy yang saat itu sedang menuntut ilmu di Madrasah
Thawalib, Padang Panjang. Surat yang bermaksud mengajak para sahabatnya
mendukung perjuangan beliau untuk memperbaharui sistem pendidikan Islam
selanjutnya melakukan gerakan perlawanan terhadap kekuasaan Hindia Belanda. (dalam
Hasjmy, 1997:132). Bak gayung bersambut, surat itu mendapat tanggapan senada
dari teman-temannya bahwa sekembali dari studi akan turut bergabung berjuang
melawan belanda.
Sementara itu pada tahun 1358 H/5 Mei
1939 organisasi PUSA terbentuk atas inisiatif dari Teungku Abdurrahman Meunasah
Meucap dengan mengangkat Teungku Muhamad Daud Beureueh sebagai ketuanya. Dan di
tahun yang sama PUSA menyelenggarakan kongres I di Kuta Asan Sigli. Kongres
yang berlangsung alot dan hadiri para pembesar PUSA dari berbagai daerah
ditambah kehadiran para tokoh dari luar Aceh untuk menyatukan misi dengan membentuk sebuah
organisasi pemuda yang kemudian dikenal dengan Pemuda PUSA. Kongres ini menobatkan
Teungku Amir Husein Almudjahid sebagai ketua
Pemuda PUSA.
Walaupun
tujuan bentukan Pusa Dan Organisasi Pemuda Pusa dibentuk dengan tujuan “memanejerialkan”
atau tepatnya menyatukan ulama dalam satu pemahaman dan kehendak dalam
bertindak khususnya di bidang pendidikan, akan tetapi pada kenyataannya PUSA
dan Pemuda PUSA berkamuflase aktif bergerak dalam bidang politik memperjuangkan
kemerdekaan.
Pasca
Republik memproklamirkan kemerdekaan tahun 1945, suasana politik di Aceh terbelah
dua. Antara barisan Nasionalis dan Status quo. Bermula dari intel
(laporan) hasil interogasi Goh Moh Wan dan salinan tanda tangan para “Borjuis” (uleebalang)
Aceh pada pertemuan Majelis Besar Uleebalang di Lamlo tahun 1945 yang menyepakati
tentara sekutu mendarat di Aceh (dalam Fauzi, 2016:44).
Khawatir
dengan umur kemerdekaan yang masih prematur, Amir Husein Almujahid dengan sigap
mempersiapkan gerakan rakyat yang dibentuk untuk mengakomodir seluruh kekuatan
rakyat yang tergabung dalam Tentara Perjuangan Rakyat (TPR). Perlu dicatat,
gerakan revolusi ini bertujuan selain menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa
dari watak rakus negeri penjajah juga untuk menghapus dominasi uleebalang pada
sistem pemerintahan yang pada dasarnya milik rakyat.
v
Sikap
patriotik tanpa akhir.
Menyiasati
berbagai kemungkinan buruk, Amir Husein Almujahid bersama sahabat dan tokoh
ulama terus mendengungkan perjuangan untuk menjaga serta mempertahankan
kemerdekaan republik yang dengan susah payah telah diraih. Maka dari itu
dibentuk bentuklah tiga buah divisi lasykar rakyat , yaitu:
1.
Divisi Teungku Chik Di Tiro pimpinan Teungku
Muhammad Daud Beureueh
2.
Divisi Rencong pimpinan Nyak Neh, M.Saleh Rahmany
dan A.Hasjmy
3.
Divisi Paya Bakong pimpinan Teungku Amir Husein
Almudjahid.
Ahmad
Fauzi menyebutkan Pasukan Berani Mati Divisi Teungku Chik Paya Bakong bertugas
disamping menjaga ladang minyak di Peurelak dan Tamiang juga dipersiapkan untuk
menghadang pasukan Sekutu dan Jepang yang sewaktu-waktu masuk ke Aceh. (dalam
Fauzi, 2016:55). Terkait mengenai ladang minyak di Aceh dan Sumatra Utara,
penunjukan kuasa atas Amir Husein Almujahid oleh pemerintah RI untuk berdelegasi
dengan pemerintah Belanda menghasilkan kekecewaan bagi pihak Belanda karena Amir
Husein Almudjahid menolak menyetujui pemberian tambang minyak Aceh dan Sumatera
Utara kepada perusahaan minyak belanda (BPM).
Alhasil,
usaha lepas dari belenggu pun berhasil tercapai hingga tambang minyak Aceh dan
Sumatera Utara tetap menjadi milik pemerintah RI dan menjadi modal awal bagi PT
Pertamina dalam mengembangkannya menjadi perusaahaan raksasa milik Negara Republik
Indonsesia dikemudian hari.
v
Pencapaian
Asa
Amir
Husein Almujahid semasa hidupnya telah merealisasikan harapannya (seuntai harapan
yang sedari remaja menjadi impiannya). Diawali dari perjuangannya yang
mendambakan perubahan terhadap dunia pendidikan di Aceh hingga kiprahnya dalam
upaya perjuangan meraih mata air kemerdekaan. Amir Husein Almujahid dilukiskan
sebagai seorang pejuang yang akan senantiasa menginspirasi generasi setelahnya untuk
mencintai ilmu, memaknai hidup dalam lentera Islam, menjadi sumbu penerang dan mengisi
nikmat kemerdekaan dengan bekal diri yang berkekuatan spiritual dan bermarwah.
Cita-cita
yang hanya dimiliki oleh seseorang guru, pemimpin, negarawan dan penggerak perubahan yang
dianalogikan laksana lilin oleh sahabatnya (dalam Hasjmy, 1997:144)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar